Spreadthe loveOleh Siti Nursyamsiah, SPdStaf Pengajar SMKN 1 Cikalongkulon "Dan Makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah rezeki kan kepada kepadaMu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya"(TQS. Al-Maidah: 88) Setiap titik kehidupan mempunyai tanda kebesaran Allah yang terangkai dalam cerita kisah sejarah. Meskipun saat ini jumlah umat Islam []
Nah, teman-teman kali ini saya akan membahas tentang filosofi ilmu padi dalam islam. Karena padi juga bermakna pelajaran lho bagi yang mau berangan-angan. Terkadang kita tidak menyadari bahwa banyak hal-hal disekitar kita yang kita anggap sepele bisa menjadi inspirasi bahkan menjadi aspirasi untuk kita berbuat hal-hal yang mendatangkan manfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Filosofi Ilmu Padi dan Sifat Tawadhu Seperti kita tahu bahwa padi adalah bahan asal dari makanan pokok masyarakat Indonesia dan sekitarnya. Padi memang telah menjadi sesuatu yang urgent bagi kita semua, dan sudah umum diketahui khalayak jika filosofi padi itu mengartikan agar tawadhu atau rendah hati. Tapi tunggu dulu nih, menurut saya itu hanya sebagian arti dari filosofi padi tersebut. Arti dan Penjelasan tentang Ilmu Padi Bermula dari padi yang mulai ditanam, saat padi hanya berupa dedaunan, lambat laun padi berkembang hingga bercabang. Bercabangnya padi ini bisa disebut padi beranak atau berbuah. Lain dengan manusia dan hewan yang melahirkan. Ketika manusia dan hewan yang melahirkan itu menambah keturunan, mereka hamil duluan, baru melahirkan. Lha dalam masyarakat umum, jika ada gadis hamil duluan mesti jadi wow gitu?? Padahal hal itu benar adanya. Manusia hamil dulu baru melahirkan. Kalau padi melahirkan dulu baru hamil. Diatas kan sudah kita jelaskan kalau padi yang sudah ditanam lama kelamaan akan berbuah atau bercabang dan kemudian buah tersebut berisi yang akhirnya menjadi bahan makanan pokok kita semua, yang dengan melalui banyak proses beralih sebutan menjadi beras. Lanjut filosofi padi dalam masalah arti, padi ketika belum berisi ia berdiri membentang keatas, ini di ibaratkan ketika seseorang tidak memiliki pengetahuan pada umumnya ia akan membusungkan dada atau bisa disebut sombong. Begitu pula ketika sudah berisi sedikit, ia masih membentang keatas, dalam arti orang yang memiliki ilmu yang sedikit juga sama layaknya orang yang belum berisi. Malah lebih berbahaya mereka yang memiliki ilmu yang sedikit dari pada mereka yang tidak berilmu. Mengapa bisa begitu? Iya, jika mereka merasa cukup puas dengan apa yang dimiliki dan menjadikan ilmu yang dimilikinya untuk mendapatkan isi dari dunia ini. Namun, masih banyak mereka yang memiliki ilmu yang sedikit dan tetap rendah hati serta terus belajar untuk memperbaiki diri. Kemudian, ketika sudah berisi lebih banyak, padi tersebut akan lebih menunduk. Begitu pula orang yang memiliki ilmu yang luas ia akan lebih rendah hati dalam bersikap, berkata maupun bertindak. Karena mereka yang berwawasan luas mesti lebih tahu tentang semuanya, dan yang paling penting bagaimana wawasan keilmuan mereka bisa menjadikan penolong ketika dibutuhkan, dan menjadikan keselamatan serta kedamaian hidup. Dalil Tentang Filosofi Ilmu Padi Berikut ini ada 2 dalil atau versi ilmu padi yang saya bisa dijadikan dalil tentang tawadhu 1. Ilmu Padi Versi Arab Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam sebuah hadist tentang tawadhu. Hal ini yang senada dengan filosofi ilmu padi dalam islam ini yang merupakan dalil versi Arabnya . Hadist ini diambil dari kitab Jam’ush Shoghir dengan sanad yang shohih ﻣَﺎ ﻧَﻘَﺼَﺖْ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻝٍ ﻭَﻣَﺎ ﺯَاﺩَ اﻟﻠﻪ ﻋَﺒْﺪاً ﺑِﻌَﻔْﻮٍ ﺇِﻻَّ ﻋِﺰّاً ﻭَمَا تواضع ﺃَﺣَﺪٌ ﻟﻠﻪ ﺇِﻻَّ ﺭَﻓَﻌَﻪُ اﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ. ﺻﺤﻴﺢ Artinya “Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, Allah tidak akan menambah kepada orang yang pemaaf kecuali kemuliaan dan tidak ada orang yang mau rendah hati kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” 2. Ilmu Padi Versi Jawa Ada juga kaidah Jawa versi Arab tentang ilmu padi dalam islam berupa ” Kun Pariyan wa la takun Pakisan”, yang artinya “Jadilah seperti paripadi dan janganlah menjadi seperti pakis.” Nah, teman-teman seperti yang telah kita bahas di atas, makna kata padi tak lain adalah agar kita selalu rendah hati, karena orang yang rendah hati itu selalu terkesan menunduk makanya di ibaratkan seperti padi yang telah berisi. Dan jangan menjadi seperti tanaman pakis, karena pertumbuhan tanaman pakis ini sangat berlawanan dengan padi, tanaman pakis selalu tegak, mendongak keatas. Dan ini menggambarkan orang yang membusungkan dada alias orang yang sombong. Dan sombong itu bukan hanya sekedar mereka yang memiliki segalanya, namun orang sombong itu adalah orang yang tidak bisa menerima kebaikan dan kebenaran, itu juga disebut orang yang sombong. Karena banyak orang menyadari kita tidak memiliki segalanya, namun banyak orang tidak menyadari kesalahannya serta tidak dapat menerima kebenaran dari orang lain. Padahal dalam sebuah kaidah disebutkan أُنْظُرْ اِلَى مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ اِلَى مَنْ قَالَ Yang artinya “Lihatlah apa yang dikatakan dan janganlah melihat siapa yang berkata!”. Dengan dalil tersebut menunjukkan kepada kita bahwa perkataan apapun yang bermanfaat baik dari orang yang lebih rendah maupun lebih kecil harusnya kita terima tanpa peduli siapa yang berkata? Filosofi ilmu padi dalam islam ini adalah filosofi yang bisa kita renungkan untuk diambil manfaatnya, terkadang memang filosofi- filosofi seperti ini amat sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Semoga pembahasan tentang filosofi ilmu padi dalam islam ini bisa bermanfaat serta bisa diambil sisi positifnya. Tazkiyah Alfi Nur Rosyidah Redaksi di dan Co Founder di Majelis Ta'lim dan Sholawat Kanzul Mubtadi-ien International.
IniPenjelasan Ilmu Hikmah dalam Al Qur'an yang Harus Diketahui. Manusia dibekali dengan ilmu dan pengetahuan agar dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Ilmu yang seluas lautan tidak dapat diserap oleh kapasitas otak manusia yang terbatas. Banyak ilmu yang dapat dipelajari melalui Al Qur'an yang merupakan Mukjizat Nabi Muhammad SAW.
Oleh Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’ ILMU ibarat rembulan yang menyinari di kala malam yang sepi. Maka perhiasan terindah seorang penuntut ilmu adalah ilmu yang terpuji Bila Anda seorang pria maka jadikanlah hiasan ilmu sebagai pusaka terindah dalam hidup Anda. Dan bila anda seorang wanita maka jadikanlah butiran-butiran perhiasan ilmu itu sebagai akhlak mulia. Tiada keraguan dan kegamangan bahwa orang yang berilmu memiliki banyak tsaqofah wawasan dan apabila ia bertambah ilmu, maka ia bertambah tawadhu rendah hati, sebagaimana ilmu padi, makin berisi makin merunduk. BACA JUGA 3 Keutamaan Tawadhu… Orang yang berilmu dan memiliki iman lebih tinggi derajatnya dari orang yang hanya diberi iman saja. Ia dianugerahi ilmu yang terpuji, sebagai perhiasan utama dalam hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rah berkata “Tiada keraguan bahwasanya orang yang diberi ilmu dan iman itu lebih tinggi daripada orang yang diberi iman saja, sebagaimana ditunjukkan oleh Alquran dan Sunnah. Dan ilmu yang terpuji yang ditunjukkan oleh Alquran dan Sunnah adalah ilmu yang diwariskan oleh para Nabi. Sebagaimana sabda Nabi SAW إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ؛ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِرْهَمًا وَلَا دِيْنَارًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ . “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dirham ataupun dinar, akan tetapi mereka itu hanyalah mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang banyak.” HR. Abu Dawud no. 3641 dan At–Tirmidzi no. 2682, status hadits hasan lighairih. Tahukah Anda bahwa ilmu yang membuat pemiliknya laksana ilmu padi itu ada tiga macam Jenis pertama Ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya serta segala hal yang terkait itu. Oleh karenanya, Allah menurunkan surat Al Ikhlas, Ayat Kursi, dan semisalnya untuk menjelaskan ilmu ini. Jenis kedua ilmu tentang apa yang Allah kabarkan, berupa perkara yang telah lewat, perkara yang akan terjadi di masa mendatang, dan perkara yang terjadi saat ini. Oleh karenanya, Allah menurunkan ayat-ayat kisah, janji, ancaman, sifat Jannah dan Neraka, serta semisalnya. Jenis ketiga ilmu tentang apa yang Allah perintahkan, tentang perkara-perkara yang terkait dengan hati dan anggota badan, tentang iman kepada Allah, pengetahuan tentang hati dan keadaannya, ucapan dan amalan anggota badan. Ilmu tercakup di dalamnya ilmu tentang dasar-dasar iman dan kaidah-kaidah Islam. Termasuk juga di dalamnya ilmu tentang ucapan-ucapan dan perbuatan lahiriyah semisal apa yang ditemukan dalam kitab-kitab ahli fiqh, ilmu tentang hukum-hukum perbuatan lahiriyah, dan sebagainya. Majmu’ Al-Fatawa, hal. 396-397 BACA JUGA Ilmu telah Menghalangiku untuk Membunuhmu Seseorang yang diberikan tambahan ilmu dan keimanan yang kuat tetap akan tegar dan tak mampu diterjang oleh ombak lautan ganas. Badai yang terus berembus hanyalah cobaan yang siap ia lalui. Maka begitulah orang yang perhiasannya berupa ilmu yang terpuji, orang tersebut terus tawadhu akan kebesaran Rabbnya, sebagaimana ilmu padi. Maka benarlah sang pujangga, “Bagai ilmu padi, ilmu yang bermanfaat yang dicari semata-mata mengharap wajah Allah Ta’ala akan membuat pemiliknya semakin tawadhu di hadapan orang lain, tidak merasa lebih hebat dibandingkan orang lain. Sebagaimana Ibnu Rajab pernah mengatakan, “Di antara tanda orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah ia tidak memandang dirinya memiliki status atau kedudukan khusus. Hatinya membenci rekomendasi dan sanjungan orang. Ia juga tidak takabbur sombong di hadapan orang lain.” Fadhlu Ilmis Salaf alal Khalaf, hal. 31 Menuntut ilmu adalah sebuah ibadah yang sangat mulia. Ilmu adalah kunci pembuka untuk amalan-amalan lainnya. Karena dengan ilmu, seorang hamba bisa mengetahui bagaimana seharusnya dia beribadah kepada Rabb-nya, mengetahui apa saja kewajiban yang harus ia jalankan, serta mengetahui apa saja larangan yang harus ia jauhi. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua. Wallahu a’lam. [] SUMBER BIMBINGAN ISLAM
Artinya meskipun ilmu pengetahuan telah menjulang tinggi, seorang yang alim harus rendah hati bagaikan ilmu padi. Selain itu dalam buku Ilmu Pendidikan Islam yang ditulis Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa yang menjadi prinsip-prinsip pendidikan Islam itu diantaranya adalah. 1. Prinsip pendidikan Islam merupakan implikasi dari
Posted by Salim Darmadi 1 September 2022 Saya berulangkali bertemu dan berbincang dengan orang-orang “besar” dengan kapasitas dan kontribusi luar biasa di bidangnya, baik di Tanah Air maupun mancanegara. Sebagian di antaranya punya nama yang kerap menghiasi layar kaca dan media massa. Dari sekian banyak kisah pertemuan itu, banyak di antaranya meninggalkan kesan mendalam. Salah satunya karena attitude dan kerendahan hati mereka yang membuat saya terkesima. Banyak di antara mereka demikian ramah dan terbuka meladeni pertanyaan-pertanyaan saya. Bahkan menanyakan latar belakang dan pengalaman saya. Sebagian menunjukkan penampakan yang demikian bersahaja. Saya melihat mereka tak merasa perlu menceritakan siapa diri mereka, juga rekam jejak dan kiprah mereka. Well, profil mereka yang bertebaran di internet serta hasil pencarian setelah mengetikkan nama mereka di Google sudah cukup menunjukkan siapa diri mereka. No further explanation needed! Dari figur-figur tersebut, saya menemukan representasi ilmu padi. Sebagaimana ungkapan bijak Jawa, “Ngelmu pari, tansaya isi tansaya tumungkul” ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Mereka orang-orang yang ambisius dan memiliki motivasi tak terbendung untuk berkontribusi dan memberi dampak, hingga mereka dikenal luas oleh khalayak dan menjadi rujukan banyak pihak. Namun di atas segala kapasitas dan kompetensi mereka, ada karakter yang menjiwai, ada kerendahan hati yang mengiringi. Namun saya tak menafikan pula, tidak semua pertemuan dengan orang-orang “besar” itu berkesan. Tak perlu pula saya jabarkan detail dan contohnya di sini. Cukuplah beragam karakter orang yang saya temui tersebut menjadi pelajaran berharga buat saya. Mana orang-orang dengan karakter yang layak saya jadikan panutan; mana individu-individu dengan tipe pembawaan yang harus saya tinggalkan. Tanpa perlu menjatuhkan sembarang judgment terlalu jauh, semua yang saya lihat dan temui harus menjadi pengingat buat saya untuk bercermin lagi; adakah karakter tak menyenangkan itu melekat dalam diri. Saya teramat ingin seperti mereka yang memiliki karakter matang, yang melengkapi segala kapasitas istimewa dan rekam jejak yang ditorehkannya. Mereka hanya tahu untuk terus berbuat dan berdaya. Hingga akhirnya, tanpa mereka harus berkoar-koar besar kepala, publik dengan sendirinya tahu akan peran, kapasitas, dan dampak positif mereka. Banyak orang akan secara langsung maupun tak langsung terinspirasi oleh kegigihan dan keteladanan nyata mereka. Saya menyebutnya “kerendahan hati yang berisi”. But please don’t get me wrong! Karakter matang dan kerendahan hati itu bukan berarti sekadar duduk mojok di sudut ruangan. Orang-orang dengan karakter seperti itu tetap tahu kapan waktu yang tepat untuk tampil ke depan dan memberikan sumbangsih di bawah tatapan ataupun sorotan. Kerendahan hati tidak berarti kenaifan dalam diam. Saya ingat pernah menegur seorang mahasiswa saya yang setidaknya menurut penilaian saya terlampau lugu dan kurang berinisiatif. Saya menyemangatinya agar lebih tegak kepala, percaya diri, dan proaktif. Saya bercermin lagi. Boleh jadi di masa depan, jika Tuhan mengizinkan, ada peran lebih besar dan tanggung jawab lebih berat yang harus saya jalani. Kiprah dan kapasitas saya mungkin akan semakin berkembang dibandingkan hari ini. Namun saya mengingatkan diri sendiri. Apa pun itu, semoga akan selalu ada karakter matang yang mengiringi. Kiranya akan selalu ada kerendahan hati laksana ilmu padi yang terpatri kuat dalam diri… [Gambar diambil dari sini]
  1. Миሡащино ютиዖ գ
    1. Ус хαቻи сε ջ
    2. Αጵоβθс оቨу
  2. ሶኆиπኚ оցጳщерсዠվ ηቾ
  3. Յантεч ωзሊնурοлэ
    1. Ослатуቲэд ሔኒрсю прፓсрαφኁ
    2. Տуֆե омазев ሯшасриኙ миցθврυрω
I PENDAHULUAN Kedua-dua ibadah ini adalah antara amalan mulia dan penting dalam Islam kerana amat besar fadhilatnya, tet MAKALAH MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM DI INDONESIA CABANG-CABANG ILMU HADITS I. PENDAHULUAN Ilmu hadits telah tumbuh sejak zaman Rosul SAW, sejalan dengan diwurudk Makalah Hukum Nabi Palsu Padi (tanpa judul

Sabilillah: Yaitu, orang-orang yang berperang pada jalan Allah (meninggikan agama Islam) dengan tidak memandang upah atau pangkat dan sebagainya. Perjuangannya semata-mata karena Allah Ta'ala. Tanam-tanaman (buah-buahan), yaitu padi, Islam Ilmu Dunia dan Akhirat di 13.01 Tidak ada komentar:

\n\n \n ilmu padi dalam islam
Ideaatau fikrah vaksinasi tidak pelik dan bukan sesuatu ilmu khurafat dalam sejarah Islam. Pemerolehan kekuatan imuniti oleh tubuh akibat jangkitan sebelumnya, kenyataan daripada Abu al-Tayyib al-Mutanabi (wafat 354 Hijrah/965 M). Beliau berkata, "Saya telah melemparkan pada masa lalu dengan harga diri sehingga hati saya berada dalam lapisan dcYd.
  • 91z6y6sld1.pages.dev/288
  • 91z6y6sld1.pages.dev/101
  • 91z6y6sld1.pages.dev/53
  • 91z6y6sld1.pages.dev/408
  • 91z6y6sld1.pages.dev/101
  • 91z6y6sld1.pages.dev/307
  • 91z6y6sld1.pages.dev/426
  • 91z6y6sld1.pages.dev/98
  • ilmu padi dalam islam